Selasa, 12 Februari 2013

Kisah ini saya persembahkan buat ayah saya dan semua laki-laki yang selalu kita panggil Ayah, Bapak atau Papa serta banyak lagi panggilan bagi laki-laki ini yang menjadi pahlawan bagi keluarganya tercinta.



Seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja ia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut, dengan badannya yang mulai membongkok, disertai suara batuknya yang garau. Anak perempuan itu bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kenapa wajah ayah kian berkerut dan badan ayah kian hari kian membongkok?”. Demikian pertanyaannya ketika ayahnya sedang bersantai di beranda.

Si ayah menjawab “Sebab ayah laki-laki sayang”. Anak perempuan itu berkata sendirian, “Aku tidak mengerti”. Berkerut keningnya kerana jawaban sang ayah itu yang membuat hatinya bingung. Ayahnya hanya tersenyum, dipeluk dan dibelai rambut anaknya sambil menepuk bahunya dan berkata, “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki “. Demikian bisik sang ayah yang membuat anaknya bertambah bingung.

Kerana perasaan ingin tahu, ia mencari ibunya lalu bertanya, “Ibu, mengapa wajah ayah kian berkerut dan badan ayah kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah mengalami demikian tanpa ada keluhan atau rasa sakit?” Ibunya menjawab “Anakku, jika memang seorang laki-laki itu bertanggungjawab terhadap keluarga, memang demikianlah keadaannya”. Hanya itu jawapan si ibu.

Kian hari sianak perempuan itupun bertambah dewasa dan ia masih mencari-cari jawaban, kenapa wajah ayahnya yang tampan berubah menjadi berkerut dan badannya membongkok? Hingga suatu malam ia bermimpi, dan di dalam mimpinya ia seolah-olah mendengar suara yang lembut dan kata-katanya terdengar dengan jelas. Mimpi itu ternyata rangkaian jawaban pertanyaannya selama ini.

“Diciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat untuk melindungi seluruh keluarganya. ” 

 ”Diberikan kemauan kepadanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari titis keringatnya sendiri yang halal dan bersih, walaupun seringkali ia mendapat cercaan dari anak-anaknya.”

“Dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya ia merelakan badannya  basah kuyup kedinginan kerana tersiram hujan dan terhembus angin, ia relakan tenaga perkasanya demi keluarganya dan yang selalu dia ingat adalah disaat semua keluarganya menanti kepulangannya dengan mengharapkan hasil jerih payahnya.”

“Diberikan kebijaksanaan dan kemampuan kepadanya untuk memberikan pengertian dan kesedaran kepada anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, bahkan seringkali ditentang dan ditolak oleh anak-anaknya.”

“Dijadikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya pemikirannya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup di dalam keluarga bahagia dan badannya yang bongkok agar dapat membuktikan bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sepenuh tenaga dan segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”

Terkejut anak perempuan tersebut dari tidurnya dan segera ia berlari, bersujud dan berdo’a serta mencium telapak tangan ayahnya. “AKU MENDENGAR DAN MERASAKAN BEBANMU, AYAH…”

Sahabat….
Bila saat ini ayah kita masih hidup jangan sia-siakan masa yang ada, buatlah hatinya sentiasa tersenyum dan gembira. Bila saat ini ayah kita telah tiada jangan putuskan tali silaturahim yang telah dirintis-Nya, dan do’akan agar ALLAH selalu memberikan rahmat dan karunianya kepada ayah kita semua. Amin 
sumber: duniamotivasi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar